Aira membeku mendengar pernyataan Respati. Kalimat yang keluar itu masih berdengung jelas di telinganya. Respati menjatuhkan talak untuknya. Meskipun satu kali, tetapi ia merasa bahwa hubungannya memang sudah hancur. Ah, tidak. Bukankah dari awal memang hubungannya tidak pernah baik? Aira tidak pernah diberi kesempatan untuk menjadi istri sepenuhnya. Bahkan, ketika sikap pria tersebut baik pun, peran Lily tidak pernah hilang atau berkurang dari sisi Respati. Perempuan itu berusaha berdiri. Ia mencengkeram bagian bawah perutnya yang nyeri. Sejenak, tatapan buramnya jatuh ke lantai marmer tempat pijakan kakinya. Dadanya terasa makin sesak. Namun, di tengah rasa sakit yang menjalar, ia tetap memaksa dirinya untuk tegak dan tidak menunjukkan kelemahan di hadapan pria yang baru saja menghanc

