“Cuma pembantu dan majikan, seperti yang Mas Andra tau.” Aira menjawab setenang mungkin. Sorot wajahnya dibuat yakin. Sudah ia duga, Kallandra pasti akan curiga padanya. Dan sekarang tugas perempuan tersebut harus kembali membuat pria di depannya percaya bahwa hubungannya dengan Respati sebatas atasan dan bawahan. Kallandra berdecih sinis. “Jangan bohong sama saya, Ra.” Menggeleng, Aira berusaha menarik kepercayaan Kallandra. “Aku nggak bohong, Mas. Aku pakai mobil ini karena kebetulan tadi pagi harus antar barang ke pembantu yang cuti beberapa hari.” Dahi Kallandra mengernyit. Ia menatap Aira lama. Seakan-akan apa yang keluar dari mulut Aira bukanlah sebuah kalimat yang ia harapkan. Pria tersebut berusaha menelisik mata Aira. Kallandra mencari sesuatu yang meragukan di sana. “Ares

