"Aku baru datang ke sini, lho, Ra. Aku juga lagi lihat bunga-bunga. Masa kamu nuduh—" "Cukup, ya!" Aira memotongnya cepat. "Nggak usah kebanyakan alibi. Kamu ambil tugasku karena tahu kalau minggu depan harus dikumpulin, kan? Kamu belum ngerjain makanya ambil punyaku." Lily bersedekap daada. Ia mendengkus sebal sambil memutar bola matanya malas. Wajah cantik itu menampilkan ekspresi tidak suka, menjadikan dirinya seakan korban dari tuduhan yang tidak berdasar. Padahal sejak tadi, jantungnya sempat berdebar saat melihat Aira langsung mengarah padanya. Namun, Lily cukup pintar untuk menyembunyikan kepanikan tersebut. "Jadi orang jangan asal nuduh, dong! Mana buktinya kalau aku ambil punya kamu?" Aira mengedarkan pandangan ke segala arah. Napasnya masih terdengar berat. Jemarinya mengepal

