Begitu melihat Aira di halaman mansion, Brian langsung menghampirinya. Napas pria itu masih memburu. Wajahnya terlihat tegang, seperti larut memikirkan kemungkinan terburuk yang bisa terjadi dalam waktu lama. Bahkan, beberapa pelayan di sekitar sana tampak ikut gelisah ketika tahu situasi yang telah terjadi. “Nyonya! Tuan—” “Mereka balapan di mana, Brian?!” Aira memotong celat. Ia bertanya tidak sabar. Brian sampai terkejut mendengar nada bicara Aira yang jauh lebih tinggi dari biasanya. Perempuan itu berdiri dengan wajah pucat dan tatapan penuh kecemasan. Jemarinya mencengkeram erat kunci mobil yang berada di tangan. Kondisinya sekarang seperti mencerminkan bahwa ia siap pergi saat itu juga tanpa menunggu penjelasan lebih lanjut. “Di sirkuit pribadi Tuan Besar, Nyonya.” Tanpa menjawa

