Di mansion Respati .... Aira berbaring di atas tempat tidur dengan kepala sedikit menghadap ke samping. Sisi pipi kirinya masih berdenyut nyeri sejak pukulan Kallandra yang tidak sengaja mendarat beberapa jam lalu. Setiap kali menggerakkan rahang atau menelan ludah, rasa sakit itu menjalar hingga ke pelipis. Bahkan, bantal yang bersentuhan dengan wajahnya pun membuatnya meringis pelan. Kelopak matanya terbuka dengan berat. Pandangannya menyapu langit-langit kamar utama yang begitu familiar. Beberapa detik kemudian, atensinya tertuju pada sosok Lina yang sedang meletakkan nampan berisi semangkuk bubur sumsum dan segelas s**u hangat di atas meja kecil dekat tempat tidur. “Mba.” Lina yang semula membelakangi ranjang menoleh refleks. Raut wajahnya berubah dalam sekejap. Napas yang sejak ta

