“Sebelum kamu melakukannya, jawab satu hal, Mas.” Gerakan Respati seketika berhenti. Pria tersebut menatap Aira yang masih berdiri di hadapannya. Wajah perempuan itu terlihat pucat. Matanya masih menyisakan bekas tangis. Namun, di balik semua itu, ada sesuatu yang berbeda malam ini. Aira tidak lagi menunduk. Ia tidak berusaha menghindari tatapan Respati seperti biasanya. Perempuan itu berdiri tegak dengan keberanian yang entah datang dari mana. Mungkin karena terlalu lelah menahan semuanya seorang diri. Atau justru karena selama ini ia terus diam hingga akhirnya tidak ada lagi yang tersisa untuk ditakuti. Respati memperhatikannya beberapa saat. Sorot matanya menyipit tipis. Ia menunggu apa yang hendak dikatakan sang istri. “Kalau kamu saja bebas menyentuh Bella, Lily, atau perempuan la

