Lily tidak lantas mendapat jawaban setelah mengutarakan keinginannya. Suasana kamar rawat mendadak terasa jauh lebih hening dibanding beberapa menit sebelumnya. Respati berdiri di dekat jendela dengan kedua tangan masuk ke saku celana. Tatapannya mengarah ke luar ruangan. Dari tempatnya berdiri, ia bisa melihat lalu-lalang kendaraan yang terlihat kecil dari ketinggian lantai rumah sakit tersebut. Sementara itu, Lily memilih diam. Ia tidak kembali mendesak ataupun mengulang permintaannya. Perempuan itu hanya menundukkan kepala sambil memainkan ujung selimut yang menutupi kedua kakinya. Sikapnya terlihat penuh pengertian. Ia seperti sudah benar-benar siap menerima apa pun keputusan yang akan diberikan oleh Respati. “Kalau Kakak keberatan, nggak apa-apa. Nanti aku bisa minta temenku buat

