“Aku istri kamu, Mas.” Aira dengan percaya diri menjawabnya. Tangan kanannya terangkat, menunjukkan cincin pernikahan di jari manisnya. Ia masih bisa tersenyum, meski kini Respati masih mencengkeramnya. Sial. Sikap tenang Aira yang demikian justru membuat Respati makin berkecamuk. Ia menyentak leher Aira saat melepasnya. Rahangnya mengetat. Jangan tanya beratap marahnya ia pada perempuan tersebut. “How dare you, Aira?!” Ia menekankan setiap katanya. Wajahnya menahan geram. “Aku cuma bicara fakta, Mas.” Aira menghela napasnya pelan. “Kalau kamu datang cuma buat menyakiti, lebih baik pergi. Kalau aku sakit, kamu juga yang susah, kan?” Respati mendengkus. Sungguh, ia tidak menyangka bahwa Aira bisa setenang ini setelah apa yang ia lakukan selama ini. Pria tersebut memandang sekeli

