Keesokan harinya .... Jam kuliah sudah selesai semenjak setengah jam lalu. Namun, Aira masih tetap duduk di taman belakang gedung fakultasnya sambil memandangi tablet yang menunjukkan layar kosong. Angin siang berembus pelan, menggerakkan ujung cadarnya dan beberapa helai rumput di bawah bangku taman. Di sekelilingnya, mahasiswa lain sudah mulai meninggalkan area kampus satu per satu. Hanya Aira yang masih bertahan di sana, tenggelam dalam pikirannya sendiri. Pandangannya memang tertuju pada layar tablet, tetapi pikirannya tidak tentu arah. Terlalu berisik oleh sesuatu yang sulit untuk ia jelaskan. Ucapan Kania kemarin, tuduhan Lily, dan tatapan penuh kekecewaan dari Respati terus berputar di dalam kepalanya. Setiap kali mengingat bagaimana desainnya berpindah ke tangan Lily tanpa ia

