Lily mengambil posisi duduk di kursi rotan yang menghadap ke kolam renang balkon, sementara Respati duduk di kursi sebelahnya. Ia menatap sepotong black forest yang baru saja dipotong. Belum sempat pria itu menyentuh kuenya, Aira datang dari arah ruang keluarga. Ia mengabaikan peringatan Lina. Makin dilarang, justru membuatnya makin penasaran. Perempuan bercadar tersebut datang sambil membawa nampan berisi minuman. Secangkir kopi hitam untuk Respati dan segelas susuu hangat untuk Lily. Langkahnya masih sedikit pincang, meski berusaha disembunyikan sebaik mungkin. Sesampainya di depan keduanya, Aira meletakkan minuman tersebut satu per satu ke atas meja. “Minumannya, Tuan, Non Lily.” Aira selalu ingat dan memposisikan dirinya sebagai pembantu tiap kali ada orang luar yang bertamu ke m

