Satu minggu kemudian .... Aira terbaring dengan posisi setengah duduk. Punggungnya disangga dua bantal. Wajahnya masih pucat, tetapi tidak lagi seputih hari pertama ia dibawa ke tempat ini. Luka di sudut bibirnya sudah mengering sempurna, meninggalkan garis tipis kemerahan yang perlahan memudar. Bekas cambukan di punggung dan bahunya juga mulai mengering, meski beberapa bagian masih terasa perih setiap kali bergerak terlalu cepat. Ia menatap langit-langit kamar dalam diam. Tangan kanannya bergerak pelan, hinggap di atas perutnya yang asih rata. Ada kelegaan yang tidak bisa ia jelaskan dengan kata-kata setiap kali teringat ada makhluk kecil di dalam sana. Janin itu bertahan. Sama seperti dirinya. “Nyonya Aira sudah bangun?” Suara lembut Asti—perawat kepercayaan Brian—terdengar dari ar

