Setelah ‘insiden’ malam itu, aku jadi menghindari Mas Fendi. Aku tidak lagi mau diajak ketemu berdua kecuali ada orang lain. Aku merasa sangat berdosa karena hampir saja melampaui batas. Untungnya, Vina segera mencegah kami. Ya, sekalipun aku harus malu bukan kepalang setelahnya. Bagusnya, Mas Fendi masih sempat beralasan yang masuk akal sekalipun Vina terlihat tidak percaya sedikit pun. Tapi setidaknya, acara makan malam tetap berlangsung lancar dan baik-baik saja. “Lagi print apa, Sil?” Mbak Dwi datang, lalu mengantri di belakangku. “Ini lagi fotocopy berkas, sama print surat cuti lagi. Jatah cutiku tahun ini udah habis.” “Eh? Mau pulang ke Gresik lagi?” Aku mengangguk. “Iya, minggu depan.” “Jangan bilang, mau lamaran orang tua?” Aku nyengir, lalu kembali mengangguk. “Iya. Soalnya