“Mas beneran harus nungguin aku, lho!” ujarku begitu Mas Fendi mengantarku ke cafe tempat Mas Rajif minta ketemu. Dia bahkan belum pulang ke apartemen. Dari kantor, dia langsung datang ke kos. “Iya, Sil, iya. Kamu tenang aja.” Tadi begitu Mas Rajif minta ketemu, aku memang langsung menghubungi Mas Fendi. Hal sepenting ini, tidak mungkin kusimpan sendiri. Kupikir Mas Fendi akan melarangku, tetapi ternyata dia malah menyuruhku untuk setuju. Dengan catatan, dia ikut. Tentu saja, ikut di sini tidak satu meja. Dia akan pesan di meja yang lain dan datangnya pun tidak bersamaan. “Bukannya mau suudzon atau gimana, cuma kan enggak ada salahnya belajar dari pengalaman Vina, Mas. Aku jadi agak parno. Dia hampir aja celaka karena Kak Alan enggak datang sesuai janji. Untungnya waktu nyusul enggak t