Aku dan Mas Fendi sudah terdampar di salah satu cafe yang ada di tengah kota. Meski masih salah paham, kami tetap berangkat keluar dan bertindak seolah tidak terjadi apa-apa. Ini agar orang tua Mas Fendi serta kakak-kakaknya tidak ada yang curiga. Selama di perjalanan pun aku banyak diam. Aku kesal, kemarahanku juga sempat mencuat, tetapi di sisi lain sedikit senang. Aneh sekali, kan? “Mau diam sampai kapan, Sil?” “Ya Mas itu ngomong dulu!” belum-belum, nada suaraku sudah naik. “Kamu senyum dulu.” “Enggak mau!” “Kamu ini kayaknya akhir-akhir ini gampang banget ngambek. Tapi enggak papa, aku suka. Cewek kalau udah ngambekan biasanya—“ “Biasanya apa?” Aku sengaja memotong. “Mas enggak mau jelasin? Malah mempermasalahkan aku yang ngambek? Wajar atau enggak kalau aku ngambek? Siapa cew