Sepanjang perjalanan pulang, aku terus menatap cincin yang tersemat di jari manis tangan kiriku. Cincin ini adalah bukti kalau Mas Fendi sudah melamarku. Ya, sekalipun lamarannya ‘enggak banget’. Siapa perempuan di dunia ini yang mendapat lamaran sepertiku? Alih-alih lamaran, tadi lebih cocok disebut pemaksaan. Bagaimana tidak? Kesediaanku bahkan tidak dia tanya. Pertanyaan di akhir juga disertai dengan sebuah keharusan. Memang agak lain calon suamiku ini. Duh! Calon suami, ya? Namun, memang betul apa yang Mas Fendi katakan. Aku tidak mungkin menolaknya. Sudah sejauh ini, juga sudah seberjuang ini, kalau sampai ada penolakan, jelas tidak masuk akal sama sekali. Kalau diingat lagi, perjalanan kami sampai di titik ini sangatlah tidak mudah. Tidak perlu jauh-jauh sampai ke bertahun-tahun