Aku masih keki gara-gara ulah Mas Fendi tadi. Aku teringat bagaimana saat tatapan matanya turun dan mengarah pada bagian yang harusnya tidak dia tuju. Entah itu refleks karena posisi sedang kikuk, atau memang tujuannya begitu. Namun, entah kenapa aku yakin alasan dia begitu adalah yang pertama. Hanya saja, aku tetap kesal. Harus bagaimana kami setelah ini? Maksudku, mengatasi kecanggungan di saat sedang berdua saja. Ingin sekali aku marah padanya, tetapi bagaimana jika benar-benar yang pertamalah alasannya? Kadang-kadang, kita memang jadi salah dalam bertindak ketika sedang grogi atau semacamnya. “Ateee!” lamunanku buyar ketika mendengar suara Asyaf. Aku yang tadinya sedang minum air putih, langsung menoleh. “Mau ikut Tante terus, sih, Dek?” “Sini, Mbak. Enggak papa. Toh aku udah seles