Arini membuka gorden kamar, semburat jingga dari cahaya matahari menyeruak masuk. Pagi ini ia bangun lebih siang efek dari kelelahan semalam. “Ingat, Arini. Tiga hari lagi dan kamu nggak bisa kabur dariku.” Ucapan Arka semalam kembali terngiang, berputar begitu berisik di kepalanya. Bahkan, Arini tidak menghiraukan kicauan burung liar yang bertengger di pepohonan taman tidak lebih riuh daripada isi kepalanya saat ini. “Aghhh!” Arini memekik tertahan, bibirnya bergetar menahan tangis. “Ayah, Ibu ….” Arini merengek seperti anak kecil yang butuh sekali ditenangkan oleh orang tuanya saat ini juga. Malangnya, ia bukan lagi anak kecil, inilah dunia yang tidak berpihak padanya. “Aku lelah, Bu.” Gadis tersebut menahan tangis. “Oh, ayolah, Arini. Uang seratus sebelas juta itu nggak akan d

