Hening. Suasana di dapur itu mendadak senyap. Restu menelan salivanya dengan susah payah. Ia kesusahan berkata-kata untuk sekadar menjawab pertanyaan dari Arini. Ia tatap wajah gadis tersebut dengan seksama. Raut kesedihannya membuat Restu menaruh rasa iba. Air mata Arini yang mengalir membuat lelaki itu ingin mengusapnya. “Aku nggak perlu kamu kasiani. Bukankah hal seperti ini umum terjadi di kehidupan majikan dan pembantu?” Arini berusaha memutus kontak mata dengan lelaki di depannya. Kakinya yang terluka mundur, menjauh dari jangkauan tangan Restu yang hendak berniat membantu. “Nggak kayak gitu, Rin. Tapi, kaki kamu butuh pertolongan sekarang.” Restu berusaha membujuk Arini kembali. Tapi, Arini tetap menolaknya. “Aku nggak mau repotin orang. Mas Restu lebih baik pulang. Udah jatah

