Bab 88

2632 Kata

Suara Arini rendah, hampir memohon. Arka menatap bagaimana wajah kacau itu membentuk garis ketakutan di setiap sisi. Matanya masih memejam. Kedua tangannya mengepal di masing-masing sisi tubuh yang mengejang. Urat nadinya terlihat jelas. Kepalanya bergerak gelisah, seolah tengah menghindari sesuatu yang tidak terlihat. Dari pelipis, keluar keringat sebesar biji jagung. Napasnya tersengal. D.a.da itu naik-turun cepat. Arka menatap. Cukup lama. Hanya memperhatikan. Mengawasi. Seakan-akan perempuan di depannya sebatas tontonan yang hanya patut dinikmati. Bukan sebagai manusia yang tengah butuh bantuan. Butuh ditenangkan. "Nggak! Jangan sentuh! Pergi!" Teriakan itu nyaring. Keras. Melengking. Lantas, tidak lama suara tersebut berganti tangisan yang tidak lagi bisa didefinisikan apa art

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN