“Arin.” Arka memanggil. Nadanya rendah, tapi penuh intimidasi. Pria tersebut memberi tatapan yang tidak bisa dibaca oleh mereka yang ada di sana. Arini memaku tatapannya pada Arka. Ia memiringkan kepala, kemudian menyeringai tipis. Tindakannya itu hanya bisa dilihat oleh Mbok Sarni. “Saya tahu kamu marah karena saya sempat larang kamu menginap di rumah teman kamu.” Perempuan di atas ranjang itu terenyak. Ia menggeleng, tidak habis pikir dengan Arka yang begitu mudah membalikkan fakta. “And ... see? Ini akibat dari apa yang kamu langgar.” Lagi, Arka bicara. Rupanya ia tidak memberi kesempatan untuk Arini membela diri. “Kamu dirusak orang tidak jelas.” Kedua tangan Arini mengepal. Tidak peduli jika jarum infus itu mungkin bisa saja patah karena saking kuatnya kepalan tersebut. Matan

