Sudah tiga hari semenjak Arini pergi. Arka makin kacau. Pikirannya tidak pernah tenang. Fokusnya benar-benar terganggu. Pria tersebut kehilangan kendali atas dirinya sendiri. Tiap detik, nama Arini seperti hadir dalam kepalanya yang berisik. Pada kesempatan apa pun dan di mana pun, kepalanya sesak oleh Arini. Arka tidak bisa mengusir pikirannya tentang gadis itu. Rasa ingin mengendalikan gadis itu makin menjadi. Ia gila oleh kehilangan yang terjadi untuk kedua kalinya. Sore ini, ia pulang dengan laju kecepatan mobilnya yang di atas rata-rata. Beberapa kendaraan yang melaju di depannya diterabas tanpa pikir panjang. Akal sehatnya seperti tenggelam oleh kenangan lama yang menyakitkan. Arini pergi lagi. Tanpa pesan. Tanpa pamit. Gadis itu berusaha melepaskan diri darinya. Arini benar-be

