Restu menunduk dalam. Jemarinya makin menggenggam setir dengan erat sampai buku jemarinya memutih. Udara di dalam mobil terasa panas bagi Restu, meski AC tetap menyala. Ditatapnya manik hitam legam milik Arini. Mata indah itu mampu membuatnya takluk, Bergantian dengan jendela mobil yang kini berhias gerimis. Di luar sana, hujan mulai turun. “Aku .…” “Ya? Kenapa, Mas Restu?” Arini bertanya pelan, membantu pria itu yang kesusahan bicara sedari tadi. Bola matanya bergerak, menyapu wajah gugup pria di hadapannya. “Aku sayang sama kamu.” Kalimat itu akhirnya meluncur cepat dari mulut Restu. Mata perempuan itu mengerjap. Ia terenyak. Ucapan Restu serasa menggantung di udara, menggantung di antara mereka berdua. Restu juga pernah mengatakan hal serupa. Namun, kali ini berbeda. Nadany

