Bangunan bertingkat dua itu terlihat ramai. Setiap sudutnya dipenuhi oleh urusan masing-masing. Lampu berwarna-warni berputar di langit-langit ruangan. Musik berdentum memekakkan telinga. Semua orang bergerak di lantai dansa, bergoyang dengan tubuh menempel. Namun, semuanya seakan tidak menarik di mata pria yang duduk di sofa pojok sana. Dahinya mengernyit kala meneguk minuman beralkohol. Di tangannya terdapat segelas whiskey. Tangannya lincah kembali menuangkan alkohol ke dalam gelasnya, seakan tidak pernah ada kata berhenti untuk malam ini. Jika diingat-ingat sejak awal datang, pria itu jelas tidak ingat ini sudah gelas yang keberapa. Jelas di kepalanya sekarang hanya mengingat, bahwa Arini sudah pergi lagi meninggalkannya. “Brengsk!” Arka mengumpat pelan, lantas kembali menengg

