Bab 108

2893 Kata

Samira tetap memasang wajah datarnya. Ia bahkan kembali mengangkat buku ke atas pangkuan, seakan tuntutan dari Arka tidaklah begitu penting. “Mama nggak tau, Ar. Kehidupan perempuan itu nggak pernah lebih penting dari apa pun di hidup Mama.” Samira berujar santai. Arka berdecak sebal. “Ma, jangan pura-pura nggak tau. Di mana Mama sembunyikan Arini?” Wanita paruh baya itu menoleh, ia meletakkan bukunya ke atas meja. “Ar, Mama benar-benar nggak paham apa maksud kamu. Memangnya apa yang terjadi dengan Arini?” Samira memutar bola matanya malas. “Jangankan mengurus dan tau tentang Arini. Ke rumahmu saja, Mama sejarang itu. Mama bahkan senang sekali kamu datang pagi ini.” Desahan pelan terdengar. Arka menggeleng. Wajahnya benar-benar tegang. Fokusnya bahkan tetap menuduh sang mama. “Mam

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN