“Kenapa? Saya hanya butuh alasan kenapa saya harus menjaga jarak dari tiap lelaki yang bahkan bersikap baik kepada saya.” Arka menyimpan kedua tangannya di saku celana. Ia melangkah, mendekati Arini lalu membungkukkan badan hingga wajahnya berdekatan dengan wajah Arini. Ia memiringkan kepala hingga posisinya berada di samping telinga Arini. “Apa yang sudah aku klaim jadi milikku, maka harus jadi milikku. Itu berarti, kamu harus menuruti apa pun yang aku mau.” Bisikan itu membuat Arini menegang. Ia dibuat makin tidak berkutik saat telinganya dig1git pelan oleh si pria. Begitu kesadaran kembali, Arini mendorong d**a bidang Arka supaya menjauh darinya. “Aku juga berhak bahagia, Mas. Aku berhak pilih jalan hidupku sendiri!” Geram dengan perlawanan yang didapat, Arka mencengkeram kuat dag

