Arka membisu. Entah kenapa kali ini kecantikan Arini sukses membiusnya. Tatapan kagum tidak bisa lagi pria tersebut sembunyikan. Berkali-kali matanya mengerjap, seolah tidak percaya apa yang dilihatnya pada sosok Arini. Menyadari bagaimana cara Arka menatapnya, Arini menunduk. Pipinya yang semula berpoles blush merah muda, kini makin matang karena tersipu malu. Bagaimanapun juga, ia tetap perempuan biasa yang akan malu jika ditatap seperti itu oleh lawan jenisnya. Terlebih lagi, pria di hadapannya pernah menjalin kasih dengannya selama bertahun-tahun. “Eh, Arin kenapa masih di sini? Di bawah sudah ada sopirnya Mama yang jemput.” Anita yang baru saja selesai menelepon mamanya kini keluar dari kamar. Sontak Arka membuang pandangan ke arah lain untuk menghindari kecurigaan sang istri

