Arini berusaha melepaskan cengkeraman tangan Restu. Menarik sekuat yang ia bisa, sampai tubuhnya perlahan mundur dan menabrak pot bunga yang terbuat dari semen. “Lepasin, Mas! Sakit!” Arini berseru seraya memutar pergelangan tangannya, membuat kulit putih bagian tersebut mulai memerah. “Lepasin!” Alih-alih melepaskan tangan Arini, Restu justru menggenggamnya makin erat. Ia tidak peduli jika pelupuk mata perempuan di depannya mulai digenangi air mata. Tubuh tegap dan tinggi milik Restu makin dekat, memangkas jarak dengan Arini. Aroma tubuh pria itu bisa dicium jelas oleh Arini—perpaduan keringat dan tanah yang bercampur. “Aku selalu memantau dan bersedia menjemput atau mengantarmu, Arini. Kamu nggak perlu dijemput orang asing. Itu bahaya.” “Dia teman masa kecilku, Mas!” Arin

