Kelopak mata Arini berkedip. Ia hendak mengubah posisi berbaringnya menjadi setengah duduk. Namun, belum sampai perempuan tersebut melakukan, wanita paruh baya yang baru saja masuk itu langsung gegas menghampirinya. “Jangan gerak dulu, Nak.” Arini mengerjap. Ia melihat baik-baik orang yang kini membantunya. Wajahnya tidak asing. Ia pernah melihatnya. Perempuan tersebut mengenalnya. “Tante Rosa?” Arini berbicara lirih, menebak. Wanita paruh baya itu mengangguk. “Tante nggak nyangka bakal ketemu kamu dalam kondisi begini, Arin.” Ia duduk di sisi ranjang rawat Arini yang kosong. Tangannya mengusap kepala perempuan yang kini dibalut dengan perban. “Aku ... kenapa, ya, Tante?” Arini bertanya dengan wajah pilon. “Kamu keserempet mobil. Kebetulan saat kejadian, Tante pas lewat. Ja

