Perempuan bersurai hitam legam itu bangun lebih pagi hari ini, gerakannya pun seperti autopilot. Setelah begitu lama ia bekerja di sini, semuanya terasa seperti siklus yang ada di luar kepalanya. Arini menggeliat, beranjak turun dari ranjang. Ia menyibak selimut. Melipat kain tebal itu dan membereskan kamarnya sendiri terlebih dahulu. Demi efisiensi waktu, ia pun memilih untuk tidak mandi terlebih dahulu. Arini membasuh wajah sejenak, menguncir rendah rambutnya yang berantakan. Ah, pagi ini ia bahkan memiliki janji bertemu dengan Angga di depan fakultas. Arini melenggang santai keluar dari paviliun, menuju rumah utama. Langit masih gelap, hanya lampu taman yang menyala redup. Di dapur masih sepi. Arini sendiri yang mulai menyiapkan sarapan. Tidak lupa segelas kopi hitam untuk Arka d

