Arka melepas pagutannya. Ia tersenyum licik melihat Arini yang gelagapan ketika mendengar suara di seberang sana panik. “Arin?” “I–iya, Ngga.” “Kamu nggak apa-apa, ‘kan? Kamu lagi sama siapa di sana?” “A–aku lagi nggak—enghhh.” Lenguhan itu keluar refleks saat Arka menyesap dalam leher Arini. Ia memainkan ujung lidahnya di bekas merah yang ia ciptakan sendiri. “Aku jemput sekarang, ya?” Arini makin gugup mendengar ucapan Angga. Bagaimana jika lelaki itu benar-benar ke sini dan melihat semuanya? “Nggak usah, Ngga. Aku cuma lagi ngusir nyamuk di kamar.” “Oh. Ya, udah, nanti aku jemput.” Belum sampai menjawab, Arka sudah menarik ponsel Arini. Ia menahan benda tersebut sambil menatap sang mantan kekasih. “Punya hubungan apa kamu sama dia? Hm?” tanya Arka penuh intimidasi. A

