Air mata mengalir deras membasahi dataran pipi Arini. Rasa sakit menjalar begitu saja memenuhi bagian intimnya. Ia bahkan merasakan seperti ada robekan dari perlakuan Arka. Ia menggigit bibir bawahnya kuat demi menahan rasa sakit. Sebab, hanya untuk menarik kedua paha dan menutupi bagian sakitnya, rasanya perempuan tersebut sudah tidak lagi mampu. Arini meneguk ludah kasar. Rasa asin bercampur liurnya. Ia sadar, bibirnya kini berdarah karena terlalu kuat ia gigit. Arka memainkan senjata api yang masih berada di bagian inti Arini. Ia menatap bosan. Permainannya kali ini terasa sedikit membosankan. Maka dari itu, ia bersiap hendak mengambil koleksi benda lainnya. Mencoba permainan lain dengan perempuan tersebut. “Mas, stop!” Arini berteriak, kala Arka terlihat berdiri di depan pint

