Suara itu ... suara yang paling ia takuti. Suara yang selama lima hari ini berusaha Arini lupakan, tapi tidak pernah bisa. Sebab, ketika matanya terpejam, suara itu tetap masuk ke dalam mimpinya. Arka berdiri di sudut ruangan. Tubuhnya menyandar di dinding. Tangannya di saku celana. Wajahnya beraut dingin, seolah tidak ada maaf. Tidak ada kesempatan. Matanya menyorot gelap. Arini memperhatikan dahi pria itu. Syukurnya luka yang ia buat di sana tampak sudah dijahit sempurna. Hanya meninggalkan bekas luka yang masih basah. Dan, mungkin setelah kering nanti akan hilang begitu saja. Ia tidak bisa bergerak. Kakinya terpaku di lantai. Seluruh tubuhnya gemetar hebat. “Mas .... A-aku minta maaf.” Arini berujar gugup. Suara seraknya hampir tidak terdengar. Arka tersenyum. Senyum yang tidak pern

