Pertanyaan itu terdengar menyakitkan. Arini ingin menjawab. Menolak prasangka dengan kalimat tegas dan penuh keberanian. Namun, kondisinya yang tidak memungkinkan membuatnya hanya diam. “Jeng ....” Rosa berbicara lembut. Ia menatap Irna dan menggeleng, seolah meminta agar teman dekatnya itu menahan diri sebentar. Udara di ruangan itu terasa makin menipis. Arini masih menunduk. Ia meremas ujung selimut dengan keras. Di bawah sana, Rosa mulai membersihkan bekas muntahannya dengan telaten. Arini berusaha memperbaiki letak duduknya. Perutnya masih terasa seperti diaduk keras. Perlahan, ia memberanikan diri mengangkat wajah, menatap Irna. Irna masih menatapnya. Tatapan yang penuh kecemasan. Namun, dibandingkan dengan kekhawatiran, sorot curiga justru terasa lebih jelas di mata Irna. Sebag

