Tawa pelan Arka mulai terdengar. Ia berusaha membangun kepercayaan melalui sorot matanya kepada Anita. “Saya hanya mengawasi dia, Sayang. Takut saja jika kejadian malam itu terulang dan kaki kamu jadi korban lagi.” Tahu arah pembicaraan Arka akan ke mana, Anita akhirnya berdeham. “Nggaklah, Mas. Kemarin karena Arini lagi kurang sehat aja mungkin.” Irna dan Mahesa saling pandang sejenak, sebelum akhirnya wanita paruh baya itu ambil suara. “Memangnya kejadian apa, Arka?” Tidak ingin topik pembicaraannya melebar, Anita lebih dulu menyahuti. “Waktu itu Arini sakit, tapi tetep maksain kerja, Ma. Jadinya mecahin mangkuk yang isinya sup panas dan kena ke kaki Anita juga Arin.” Arini yang memang menyimak obrolan keluarga itu sedari tadi hanya bisa diam dan tetap melanjutkan aktivitasnya mera

