Arini spontan berdiri. Aromanis di tangannya hampir saja jatuh. Senyumannya terkembang lebar mendapati siapa yang datang menyambanginya kemari. “Angga! Rania!” Arini menyerukan nama kedua sahabatnya. Ah, ini benar-benar keajaiban. Setelah tadi siang ia kepikiran, kini mereka datang tanpa diduga. Bumi ikut berdiri di sebelah Arini. Tangannya terjulur memegang ujung kardigan Arini. Ia melipat wajah takut, merasa asing dengan dua orang di depannya. Rania mengangguk, membuat genangan air di sudut pelupuk matanya luruh begitu saja. Ia tersenyum. Air matanya masih mengalir, kemudian menyadari sikap Arini yang justru hanya diam. “Rin, kok, melongo? Kayak lihat hantu.” Arini tersentak. Ia maju selangkah, meraih tangan Rania. Hangat. Dan maknanya itu nyata. Bukan sosok hantu seperti kata

