Rania terperanjat mendengar ucapan Arini. Ia menatap lamat-lamat sahabatnya. Mungkinkah ia tidak salah mendengar? Arini yang ia kenal sebagai sosok lembut dan penuh perhatian justru memiliki keinginan jahat yang tidak pernah ia bayangkan. “Pikirkan lagi, Rin. Memangnya kamu tega bunuh nyawa yang jelas-jelas nggak bedosa sama sekali?” Rania berusaha membujuk, menyadarkan. Arini menunduk. Satu tangannya mengusap perutnya yang masih rata. Kehamilannya adalah aib. Statusnya tidak jelas. Dan ia jijik pada dirinya sendiri yang sudah dijamah oleh pria lain. “Kalau dia anak Mas Arka ... mungkin aku bisa mempertimbangkan. Statusnya jelas.” Arini menghela napas. Matanya berselimut sendu yang tidak bisa diungkapkan. “Tapi, feeling aku kok, bilang kalau itu emang anaknya Pak Arka, ya, Rin?” “

