“Aku … aku butuh waktu. Maaf, tapi ini terlalu mendadak.” Dari banyaknya hal yang ingin Arini utarakan, hanya kalimat pendek itu yang mampu mengalir dari mulutnya. Lelaki di hadapan Arini terlihat kecewa, tapi tampaknya ia tetap berusaha tersenyum ketika mendapat penolakan. “Ambil waktumu. Aku nggak bakal ke mana-mana.” Arini mengangguk pelan lalu buru-buru memungut kaleng aromaterapi dan sapu, lantas bergerak masuk ke dalam rumah. Gelas teh masih ia bawa, tapi tak disentuh sedikit pun. Sebelum benar-benar masuk, Arini mendongak sekali lagi. Arka sudah tidak ada di sana. Pria itu benar-benar berdiri di balkon hanya untuk mengawasi Arini dan Restu. Begitu sampai di dapur, Arini memutar-mutar gelas teh kosong itu di atas meja. Jemarinya gemetar halus. Bukan karena perasaan senang, me

