“Tu–an.” Arka tidak menjawab. Ia langsung pergi dari sana. Tapi, tidak lama, ia kembali sambil membawa sebuah salep. Dengan sigap, ia singkirkan setrika itu dan menarik tangan Arini. Lembut, pria itu oles jemari Arini yang mendapat luka bakar. “Tuan tidak harusnya melakukan ini. Biar saya saja.” Arini menatap gelisah ke sekitar, takut-takut jika Anita bisa melihat tindakan pria itu terhadapnya. “Kamu bicara setelah aku melakukannya, Rin. Kamu tau itu sia-sia, ‘kan?” Begitu pintar pria tersebut membalikkan kata. Tapi, memang kenyataannya seperti itu. Arini memberi penolakan saat Arka telah selesai mengobati luka bakar kecil di jarinya. Tidak berhenti di situ perhatian yang Arka berika. Ia meniup pelan luka itu lalu menutup kembali salepnya. Sejenak, Arini terpana dengan perhatian A

