Mendengar suara datar milik Arka dari pintu paviliun, keduanya tersentak. Arini gegas mendorong kursi yang didudukinya untuk menjauh dari Restu. Ia pun sibuk menyeka air matanya sendiri. “Eh, Tuan Arka.” Restu gegas berdiri, membungkukkan badannya sejenak, memberi hormat pada sang tuan. Tidak ada respons apa pun. Tatapan Arka tetap datar dengan raut wajah dingin. “Kami nggak pacaran, Tuan. Tidak ada hubungan spesial di antara kami. Saya hanya inisiatif membantu Arini mengobati lukanya.” Restu bekerja sebagai tukang kebun sekaligus sopir pribadi Arka itu pun menunjuk beberapa titik luka Arini. Arka menatap setiap titik lebam yang menghiasi tubuh Arini. Lutut, lengan, dan sudut bibir gadis itu membiru, mulai membengkak di beberapa luka. Lengan Arini sudah diperban sempurna. Rasa kas

