Lampu gantung di ruang tengah menyala redup, cahayanya jatuh lembut ke lantai yang dingin. Arini baru saja menghidupkan seluruh lampu di bangunan utama, mengusir kesan kosong yang sejak sore menggantung di rumah itu. Di luar, langit perlahan berubah gelap. Suara jangkrik bersahut-sahutan, mengisi sela-sela keheningan yang terasa terlalu luas untuk ditanggung sendirian. Arini belum menutup pintu dan jendela. Ia masih menunggu Arka pulang dari kantor—kebiasaan kecil yang selalu ia lakukan setiap malam, seolah rumah itu baru benar-benar hidup jika pria itu sudah kembali. Di kamar utama rumah megah itu, suasananya jauh lebih senyap. Anita duduk bersandar di sofa, tubuhnya terbungkus selimut tipis sampai ke pinggang. Wajahnya tampak pucat, napasnya sesekali tertahan saat rasa perih dari luka

