Keesokan harinya .... “Eh, kenapa, Rin?” Asih buru-buru memijat tengkuk saudara perempuannya, berharap dapat meredakan rasa mual Arini yang tidak berhenti semenjak toko dibuka. Arini hanya menggeleng lemah sembari menutup mulutnya dengan kedua tangan, menahan agar tidak kembali muntah. Kedua matanya bahkan sudah berair akibat menahan sensasi yang menyakitkan. Tidak lama, seorang wanita paruh baya yang duduk di kursi roda datang dari arah belakang akibat mendengar suara Arini yang muntah-muntah sejak tadi. Narsih datang dengan wajah khawatir, juga sedikit curiga. “Bentar, aku ambil kain pel dulu buat bersihin lantai.” Sewaktu Asih hendak berdiri, lengan perempuan tersebut ditahan oleh Arini. Ia membawa kepalanya untuk menggeleng beberapa kali. Perempuan tersebut tentu merasa tidak en

