Arini terdiam beberapa saat. Ia menatap pria di depannya. Dalam dan cukup lama. Sampai perempuan itu akhirnya menyadari—sorot mata Angga penuh ketulusan. Wajahnya juga serius. “Ngga ....” “Ya?” Angga menyahut hangat. Satu tangannya membingkai sisi wajah Arini yang basah oleh air mata. Ia mengusapnya lembut, mencoba menghapus kesedihan perempuan yang terlalu jelas di depan matanya. “Mama kamu nggak akan setuju kalau kita dekat—“ “Mama sudah tau.” Angga memotong cepat. “Dan Mama akan setuju kalau ....” “Kalau?” Arini bertanya tak sabar. Ia ingin mendengar penjelasan secepatnya. Embusan napas menguar. Angga tersenyum tipis. Ia mempererat genggamannya di tangan Arini. “Kalau aku bisa buktiin kamu hamil karena faktor paksaan, bukan atas kemauan kamu.” Arini terpaku. Ia tidak lagi me

