“Arin terima, Mba. Arin mau lanjut kuliah.” Arini berujar mantap. “Akhirnya! Oh, thanks God!” Anita berseru senang. Wanita hamil itu bahkan menyatukan kedua tangannya di depan d**a seraya memejamkan mata penuh syukur. Melihat bagaimana Anita merespons jawabannya, justru makin meremas hati Arini dalam kubangan rasa bersalah. Melalui manik cokelat legumnya, Arini merekam dengan baik bagaimana Anita begitu tulus dan baik padanya. Bagaimana Anita merasa bahagia dan bersyukur, hanya karena ia mau lanjut pendidikannya, padahal dalam hal ini yang diuntungkan hanya dirinya. “Terima kasih, ya, Arini. Kamu sudah mau menerima tawaran Mama sama Papa,” ucap Anita, senyumannya belum jua surut barang segaris. “Mba yakin, kamu gadis yang cerdas. Mama dan Papa nggak akan kecewa atas keputusannya meny

