“Pagi, Ma,” sapa Sastra menarik kursi di meja makan dan duduk di sana. Mama mertuanya itu sedang menikmati sarapan pagi, sementara Sastra baru saja akan sarapan. “Pagi,” balas Anggi tersenyum pada Sastra yang duduk di sampingnya, tetapi di sisi yang berbeda. “Nada nggak turun?” “Masih tidur.” Sastra menahan senyum, untuk meredam rasa canggung di depan mertuanya. Anggi melipat bibir sesaat. Berusaha untuk tidak tertawa, agar situasi di antara mereka tetap terjaga. “Oia, Ma.” Sastra buru-buru mengganti topik obrolan mereka, agar tidak semakin salah tingkah. Jika saat ini Arini dan Adrian yang berada di depannya, mereka berdua pasti sudah tertawa untuk meledek Sastra. “Nada sudah cerita masalah pertemuan kemarin dengan pak Rizal.” “Nggak papa,” ujar Anggi sambil mengunyah pelan makananny

