Suamiku,Kau Kuceraikan
Anindya menerima foto ranjang suaminya.
Fahri.
Setengah telanjang.
Dan seorang perempuan lain yang memeluknya dari belakang.
Ia tidak menjerit.
Tidak menangis.
Bahkan tidak menjatuhkan ponsel dari tangannya.
Ia hanya tersenyum,senyum tipis seorang wanita yang akhirnya mengerti satu hal:
sesuatu di hidupnya harus dihancurkan, sebelum menghancurkannya lebih dulu.
Rapat dimulai pukul 09.00 tepat.
Anindya duduk di ujung meja panjang ruang konferensi, laptop terbuka, layar proyektor menyala. Wajahnya tenang. Posturnya tegak. Tidak ada satu pun yang menyangka, beberapa menit lalu dunia pribadinya runtuh dengan cara paling kejam.
“Untuk kuartal berikutnya, kita fokus ekspansi pasar Asia Timur,” ucapnya datar.
Slide demi slide berganti. Grafik. Angka. Strategi efisiensi biaya. Semua mengalir rapi seperti biasanya.
Padahal ponselnya,yang tergeletak di samping laptop,terus bergetar sejak pukul tujuh pagi.
Nama yang sama muncul berulang kali.
Fahri.
Suaminya.
Dua tahun menikah. Dua tahun yang awalnya terasa seperti mimpi. Fahri yang manis, penuh perhatian, selalu memujinya sebagai wanita paling hebat yang pernah ia kenal. Pria yang katanya bangga memiliki istri berkarier.
Ternyata kebanggaan itu hanya bertahan selama ia merasa lebih unggul.
“Bu, ini data terbaru dari tim finance,” bisik sekretarisnya sambil menyelipkan map tipis.
“Letakkan saja. Nanti saya cek.”
Suara Anindya stabil. Bahkan terlalu stabil.
Rapat berlangsung hampir dua jam. Tak satu pun pikirannya benar-benar berada di ruangan itu. Namun ia tetap memimpin, menanggapi pertanyaan, mematahkan sanggahan, memberi keputusan cepat.
Profesional. Dingin. Tak tergoyahkan.
Saat rapat berakhir dan ruangan kembali sepi, barulah Anindya menutup laptopnya perlahan.
Ia menarik napas.
Lalu mengambil ponsel.
7 panggilan tak terjawab.
19 pesan masuk.
Semua dari Fahri.
Ia menatap layar beberapa detik sebelum akhirnya membuka pesan pertama.
Sayang, maafin aku… tolong angkat telepon… aku bisa jelasin…
Kata sayang membuat tengkuknya terasa panas.
Pesan kedua.
Aku salah… tapi kamu juga kan jarang di rumah…
Ia menghembuskan napas pendek.
Pesan ketiga.
Dia nggak ada apa-apanya dibanding kamu. Aku cuma… khilaf.
Kata khilaf membuatnya hampir tertawa.
Lalu ia melihatnya.
Foto itu.
Tangannya berhenti bergerak. Jari-jarinya membeku seolah kehilangan fungsi.
Foto yang sama seperti pagi tadi,tapi kali ini lebih jelas. Cahaya kamar. Seprai putih kusut. Kulit Fahri yang setengah terbuka. Dan lengan perempuan lain melingkar di pinggangnya, posesif, tanpa malu.
Seolah ranjang itu memang miliknya.
Dan sebuah pesan menyusul, dikirim dari nomor yang selama ini hanya ia curigai dalam diam.
“Kak, makasih ya… sudah ‘ngasih’ suami. Dia manis banget, sumpah.”
Dada Anindya terasa kosong.
Bukan sakit. Bukan perih.
Kosong.
Seperti sesuatu dicabut paksa dari dalam dirinya, meninggalkan ruang hampa yang dingin.
“Bu?” Sekretarisnya kembali mengetuk pintu. “Klien dari Jepang sudah di lobby. Mereka minta bertemu lebih cepat.”
Anindya mengunci layar ponselnya.
“Baik.”
Satu kata. Tanpa getar.
Pertemuan berjalan formal. Senyum. Jabat tangan. Bahasa Inggris yang rapi. Proposal yang disepakati.
Tak satu pun dari mereka tahu, di balik jas mahal dan wajah tenang itu, ada seorang istri yang baru saja dikhianati dengan cara paling murahan.
Selesai pertemuan, Anindya berdiri di depan jendela ruang kerjanya. Kota membentang di bawah sana. Macet. Padat. Bising.
Biasanya ia pulang larut. Malam ini, entah kenapa, ia ingin pulang lebih awal.
Ia ingin melihatnya langsung.
Perjalanan terasa lebih panjang dari biasanya. Lampu merah terasa menyebalkan. Klakson bersahutan.
Namun saat mobil berhenti di depan rumah besar bergaya modern minimalis itu, dadanya justru terasa semakin berat.
Rumah ini ia beli dengan uangnya sendiri.
Gajinya.
Keringatnya.
Lembur-lemburnya.
Fahri hanya menempati.
Anindya membuka pintu.
Hal pertama yang ia lihat adalah sepatu pria itu di rak.
Sudah pulang.
Bagus.
Ia melangkah pelan melewati ruang tamu yang sunyi. Lampu kamar utama menyala samar dari balik pintu.
Dan saat ia semakin mendekat,
Ia mendengar suara itu.
“Pelan-pelan, sayang… jangan di sini.”
Langkah Anindya terhenti tepat di depan pintu kamar.
Suara perempuan.
Bukan suaranya.
Tangannya menggenggam gagang pintu. Dingin. Licin oleh keringat.
“Takut ketahuan?” suara laki-laki itu menyusul, rendah, terlalu ia kenal.
“Istrimu pulang malam,” perempuan itu tertawa pelan. “Dia selalu sibuk.”
Dada Anindya menegang.
“Itu suara Fahri.”
Kepalanya terasa berdengung.
“Dia terlalu percaya padaku,” jawab Fahri ringan.
Kepercayaan itu mati tepat di detik itu juga.
Anindya menarik napas perlahan.
Tangannya masih di gagang pintu.
Dan saat itu ia tahu,
apa pun yang ada di balik pintu ini, hidupnya tidak akan pernah sama lagi.