Aku memilih untuk keluar dari ruangan yang dipenuhi para penggosip itu. Malas mendengarkan ocehan mereka yang seolah tidak ada habisnya. Pikiranku sedang kacau, dan aku butuh tempat untuk menenangkan diri. Di lantai atas gedung ini, kursi-kursi yang menghadap ke pemandangan kota memberi ketenangan yang cukup aku cari.
Saat duduk sendirian di sana, tiba-tiba aku mendengar suara seseorang yang memanggilku. Aku menoleh, dan terlihatlah seorang pria yang datang menghampiri. Dari pandangannya, aku tahu dia sudah mengikutiku sejak aku keluar tadi.
"Kamu cemburu, Amira?" tanyanya, dengan nada yang sulit kuartikan. Aku mengernyitkan dahi, tak bisa menahan tawa kecil. Cemburu? Pada Dito?
"Apa yang kamu bilang?" jawabku cepat, "Mana mungkin aku cemburu pada pria arogan seperti Dito. Lagian, wanita yang jadi kekasihnya juga sangat jelek, seperti nenek sihir dengan make-up tebalnya itu."
Pria itu hanya tertawa pelan, lalu matanya beralih menatap panorama kota yang luas di hadapannya. Aku bisa merasakan dia sedang memikirkan sesuatu.
"Yakin gak punya perasaan sama sekali pada dia? Kalian kan tinggal satu rumah," tanya pria itu lagi, sedikit serius.
Aku menggelengkan kepala, dengan tegas menjawab, "Tidak ada!"
Pria itu tersenyum samar, seolah tidak sepenuhnya yakin dengan jawabanku. Matanya tetap menatap jauh ke depan, seakan melihat sesuatu yang hanya dia yang bisa mengerti.
"Aku juga tidak yakin," katanya pelan. "Tapi melihat sifat kalian yang keras kepala itu, aku rasa kalian akan bersatu juga nanti. Apalagi tadi pagi aku melihat kejadian itu."
Sial! Pria itu kembali mengingatkanku pada kejadian pagi tadi—ketika aku terjebak dalam situasi canggung dengan Dito. Dia yang memaksaku untuk melakukan hal yang sebenarnya tidak aku inginkan. Aku mengutuk dalam hati. Rasanya malu sekali jika orang lain tahu.
"Itu karena dia yang memaksaku!" jawabku, sedikit terburu-buru, berusaha menegaskan.
"Terus kamu menurutinya begitu?" tanya pria itu, masih dengan nada yang menggoda.
Aku merasa darahku mulai mendidih. Pertanyaan macam apa itu? Jelas aku tidak mau menurutinya. Semua itu salah Dito, yang terus memaksaku melakukan hal-hal yang tidak aku suka. Namun, sepertinya dia tak mengerti, hanya melihatku seperti orang yang tak bisa membuat keputusan sendiri.
"Aku tidak menurutinya," jawabku dengan tegas, "Dia yang memaksaku!"
Pria itu hanya tersenyum tipis, seolah tak terpengaruh dengan semua penjelasanku. Senyumannya itu membuatku kesal. Apa dia juga menganggapku lemah seperti Dito?
"Aku mencari mu, Gino ternyata sini ada disini. Sedang apa kalian ada disini hah?"
Aku dan juga Gino lantas melihat kearah belakang dan melihat pria arogan itu dengan wajah agar memerah seperti sedang menahan emosi.
"Maaf Pak Ardito," ujar Gino menundukkan kepalanya dan dia hanya untuk pergi dari sini.
"Apa yang kamu lakukan dengan Gino ditempat seperti ini?" tanya Dito padaku dengan sinis.
Aku tersenyum padanya sambil menaikan sebelah alisku. "Apa ini penting untukmu?"
Dia tidak mengatakan apapun, tapi tangannya menarik untuk pergi dari tempat ini.
Dia tidak mengatakan sepatah kata pun, tapi tangannya dengan cepat menarik tanganku, memaksaku mengikuti langkahnya tanpa bisa melawan. Aku terkejut dan berusaha menarik kembali tanganku, tapi dia semakin kuat menarikku.
"Apa yang kamu lakukan? Lepaskan tanganku! Jangan ditarik seperti ini!" kataku, suaraku sudah mulai terdengar panik. Aku merasa gelisah dan tak nyaman, terutama di tengah keramaian seperti ini. Aku tidak tahu apa yang ada di dalam pikirannya, tapi aku merasa ada sesuatu yang buruk yang sedang terjadi.
Mungkin saat ini semua orang sedang menerka-nerka apa yang akan dilakukan oleh pria arogan ini terhadapku. Aku tidak ingin terlihat menderita dihadapan semua orang karena aku tidak ingin nanti jadi bahan gosip semua orang termasuk Cika dan juga Wita.
Laki-laki itu menarik tanganku dan membawaku kedalam ruangannya. Bukan dia membawaku kedalam ruangan pribadinya yang ada di dalam kantor ini. Sebuah kamar yang dikhususkan ketika sang bos lembur.
Aku melirik ke kamar ini, dulu aku selalu membersihkannya saat papah mertuaku dan juga istrinya berkunjung ketempat ini. Aku yang selalu memberikannya karena waktu itu posisiku sebagai sekretaris pribadinya.
"Apa yang kamu lakukan hah?" tanyaku panik.
Tubuhku dihempaskan begitu saja ke lantai. Sesungguh dia membuatku merasa sangat kesal. Awas kalau dia main macam-macam padaku. Aku tidak akan memaafkannya begitu saja. Aku benci dengan dirinya.
"Kurasa bermain denganmu disini tidak masalah," ucapnya mengunci pintu sambil membuka jas yang dia gunakan dan menggulung kemejanya.
"Jangan coba macam-macam, aku bisa melaporkan kamu ke polisi "
Aku menepuk jidatku saat sadar apa yang aku ucapakan itu, mana ada istri yang melaporkan suaminya karena ingin bercinta. Hanya aku yang akan melakukan itu.
"Hahaha... Laporkan saja. Aku tidak takut," katanya yang kini sudah berada di atasku.
Aku menahan d**a bidangnya agar tidak dekat denganku. Dia sangat pintar dan juga licik. Tanganku yang menahannya malah dicekal olehnya dan dibawanya diatas kepalaku.
Hai apa yang dia lakukan? Bodoh pertanyaan macam apa itu? Sudah jelas dia ingin mengulang kejadian yang membuatku dan juga dirinya terlihat lebih gila.
"Dit...o."
Sial aku mengeluarkan suara itu disaat dia mempermainkan sebuah beda yang membuat dia b*******h seketika. Dia tersenyum devil kearahku dan mendekatkan wajahnya pada telingaku.
"Kamu menyukainya sayang?" bisiknya begitu sangat membuat aku gila seketika.
Di benar-benar sangat gila, bahkan sekarang sudah membuka kancing baju atasku. Tanganku sudah diangkat ke atas, membuat aku tidak bisa bergerak.
"Nikmati."
"Dito m***m!"
"Aku m***m pada istriku sendiri."
Aku lantas memukuli kepalanya yang kini sudah mulai bermain pada dua benda yang sangat kenyal itu. Aku menjambak rambutnya dengan begitu kasar berharap dia melepaskan apa yang dia lakukan.
"Eghh..."
Aku tidak tahan lagi, dibawah sana sudah lembab dan juga jadi jeli. Pria arogan dengan seringainya meremehkanku membuat aku semakin gila.
"Aku suka dengan kamu yang menjambakku seolah menginginkan hal yang lebih," ucapnya seolah akan memangsaku seperti serigala yang akan memakan mangsanya. Atau seorang pemburu yang siap menyantap buruannya.
Dia menarik keatas rok yang saat ini aku gunakan menampilkan kaki jenjangku yang begitu mulus dan juga berwarna putih bersih membuat pria itu mengelus pahaku.
Aku terbangun karena dia sedang melepaskan kain yang dia gunakan. Aku berjalan dan sial, dia laki-laki berhasil menangkapku dengan begitu aja.
"Kamu mau kemana hm?" tanyanya sambil menangkapku dari berkalang. Dia menurunkan rok span yang saat ini aku gunakan.
"Apa yang kamu lakukan? hei lepas!"
"Aku tidak akan melepaskan, kamu sudah bermain begini juga dengan Gino kan?" remeh Dito sambil menyindirku.
Tunggu dulu, dia menuduh aku bermain dengan Gino. Yang benar saja? Aku sama sekali tidak punya hubungan apapun dengan asistennya itu.
"Aku tidak berani melakukan itu, bagaimana kamu menuduh aku melakukan itu," ujarku dengan tajam. Tetapi Dito tidak mau mendengar apa yang aku katakan. Dia malah menghentakan kakinya dan mengerakkan kakinya sesuai dengan irama.
Membuat aku semakin terbuai dengan gerakan dia yang begitu sangat tiba-tiba. Membuat aku malah semakin kesal dengan laki6 arogan itu.
"Aku tidak percaya, sekarang nikmati gerakkan ku!" ujarnya dengan seringai mesumnya.
"Sialan Dito," umpatku kesal ketika kami berdua malah menghabiskan waktu dalam ruangan khusus ini. Bahkan kami berdua melalukan hal yang memang tidak sepantasnya dilakukan.
"Mengumpat sesuka hatimu," ujar Dito yang merasa memang.
Bersambung