Aku terbangun dan melihat sekeliling, baru sadar kalau aku masih di tempat ini. Pria arogan itu sudah pergi, meninggalkanku setelah semua yang terjadi. Aku merasa lelah, tubuhku terasa kaku, dan akhirnya memilih untuk tidur setelah dia menyiksa batinku.
Lantai yang berantakan dengan bajuku membuatku menghela napas kasar. Terpaksa aku memungutnya dan mengenakan kembali, tak ada pilihan lain. Aku meraih ponselku dan melihat banyak pesan dari Gita yang khawatir.
"Hallo," ujarku, mencoba tenang.
"Hai Amira! Aku kemana aja? Semua orang heboh lihat Pak Bos pacaran. Gosipin kamu yang ditarik Pak Bos," kata Gita heboh. Aku hanya mendengarkan, merasa semakin muak.
Pacar Ardito? Gadis itu pikir dia siapa? Penampilannya yang menor seperti ondel-ondel saja, tapi semua orang seolah menganggapnya sesuatu yang istimewa.
Aku menghela napas, berusaha menenangkan diri. "Aku baik-baik saja, Gita. Jangan khawatir," jawabku, meskipun hatiku jauh dari baik-baik saja.
"Syukurlah kalah begitu. Tetapi bagaimana dengan gosip di kantor ini? Semua orang seperti banyak membela dia."
Aku memukuli kepalaku sendiri, kenapa aku seperti wanita yang cemburu karena melihat suaminya selingkuh? Aku tidak perduli dia mau bersama dengan siapa juga itu bukan urusanku.
"Aku tidak perduli!" kataku dengan ketus.
"Hei, kamu itu sedang dalam keadaan bahaya Amira. Wanita pelakor itu harus kamu basmi. Tidak baik kalau harus membiarkannya merebut suami kamu," peringat dari Gita tidak membuat aku goyah sama sekali.
"Kamu itu kebanyakan nonton sinetron. Aku tidak perduli kalau perempuan itu datang pada rumah tanggaku. Malahan itu sangat bagus karena aku bisa gugat cerai dia nanti."
"Hei Amira? kamu sadar dengan apa yang kamu katakan itu? Kamu tidak ingat dengan amanah yang diberikan Pak Luky pada kamu dulu?"
Aku menatap diriku di kaca jendela kantor yang sudah mulai gelap. Pikiranku masih terjebak pada pesan papah mertuaku yang terus terngiang-ngiang. "Berada di sisi Ardito dalam keadaan apapun," katanya. Tapi, bagaimana mungkin aku bisa begitu saja menerima semuanya? Bagaimana aku bisa tetap setia pada pria yang begitu arogan dan selalu ingin menang sendiri?
Sementara itu, Gita masih bertanya-tanya di telepon, “Kamu lagi melamun siapa sih, Amira? Pak Ardito?” Suara Gita terdengar riang, tapi aku tahu Gita tak akan mengerti. Dia selalu melihat segala sesuatu dari sudut pandang yang berbeda. Seakan-akan, semuanya selalu indah di matanya.
Aku menghela napas, berusaha melepaskan beban yang ada di pikiranku. “Sok tahu kamu, Gita,” kataku pelan, sebelum menutup telepon dengan cepat. Dalam hati, aku berteriak, ingin mengungkapkan betapa sesaknya diriku dengan segala aturan yang ada dalam hidupku. Tapi, aku tahu, tak ada yang akan mengerti, tidak Gita, tidak siapapun.
Dengan langkah cepat, aku berusaha mengumpulkan bajuku yang tercecer di lantai kantor. Baju-baju itu mencerminkan kondisiku yang kacau balau, begitu banyak yang harus dipikirkan, tapi seakan tak ada yang bisa aku lakukan. Aku melangkah menuju pintu keluar dengan hati yang penuh kecemasan, takut seseorang melihatku dalam kondisi seperti ini kusut, berantakan, seperti tak tahu arah.
Kantor itu mulai sepi, hanya ada suara detak jam yang terasa begitu berat. Jam menunjukkan pukul tujuh malam, dan satu-satunya yang membuatku merasa sedikit lega adalah kenyataan bahwa tempat ini sudah kosong. Tidak ada yang akan menghakimi atau bertanya mengapa aku terlihat begitu, seolah sedang berusaha melarikan diri dari kenyataan.
Namun, setiap langkahku terasa seperti sebuah pilihan yang sulit. Seperti berada di persimpangan jalan, di mana aku harus memilih antara setia pada amanah yang diberikan papah mertuaku atau mempertahankan jati diriku yang mulai hilang karena terhimpit oleh tuntutan orang lain.
"Bu Amira belum pulang?"
Aku melihat kearah satpam yang selalu berjaga di kantor ini. Semoga aja dia tidak mencurigaiku yah tuhan. Aku tersenyum pada satpam itu agar tidak membuatnya curiga.
"Iya Pak, kebetulan saya tadi banyak kerjaan," jawabku santai.
Aku melirik ke arah satpam yang masih berdiri di dekat pintu keluar kantor. Semoga saja dia tidak mencurigaiku. Aku tahu, kalau dia mulai bertanya lebih lanjut, semuanya bisa jadi sangat rumit. Aku berusaha tersenyum seakan-akan semuanya normal, meskipun hatiku berdegup kencang.
"Iya, Pak, kebetulan saya tadi banyak kerjaan," jawabku dengan santai, berusaha menunjukkan bahwa tidak ada yang perlu dikhawatirkan.
Aku berharap satpam itu tidak melihat kebingunganku. Aku tahu, kalau dia mulai menanyakan lebih jauh, aku akan terjebak dalam kebohongan yang sulit aku jelaskan. Lagipula, ada banyak hal yang lebih baik tidak aku ceritakan—terutama tentang Ardito yang selalu membuat hidupku terasa seperti beban yang tak terangkat.
"Kalau begitu saya pamit, ya Pak," ujarku cepat, berusaha mengakhiri percakapan. Semakin lama aku di sini, semakin aku merasa cemas. Makin banyak pertanyaan yang bisa muncul dan semakin sulit untuk memberikan alasan yang masuk akal. Lebih baik aku segera pergi, dan menghindari kebingungan lebih lanjut.
Segera setelah itu, aku melangkah masuk ke dalam mobil. Aku merasa sedikit lega begitu pintu mobil tertutup, seakan dunia di luar bisa sedikit aku tinggalkan. Mobilku memang tidak baru, jauh dari kata mewah, bahkan bisa dibilang sudah agak usang. Tapi bagiku, itu lebih dari cukup. Aku sudah terbiasa mengendarai mobil ini, dan tak pernah merasa kekurangan meskipun Ardito sering memperlihatkan betapa ia bisa menghamburkan uang untuk hal-hal yang tidak penting.
"Syukurlah dia tidak curiga."
Aku mulai menghidupkan mesin, dan mobil pun melaju perlahan menyusuri jalanan kota. Rasanya, seiring dengan berjalannya mobil, sebagian dari rasa penat yang aku rasakan mulai sedikit mereda. Angin malam yang masuk melalui jendela mobil memberi sedikit ketenangan. Namun, meskipun tubuhku bergerak, pikiranku masih terperangkap dalam kebingunganku sendiri. Ardito, papah mertuaku, tuntutan yang tak pernah berhenti, semuanya seperti menghantui.
Aku memandangi lampu-lampu kota yang berkilauan dari balik kaca jendela. Setiap lampu seakan mengingatkanku pada keputusan yang belum aku ambil, pada jalan yang masih penuh pertanyaan. Aku merasa seperti mengemudi di tengah kabut, tak tahu ke mana arah yang benar. Semua masalah itu berputar-putar di kepalaku, menambah beban yang sudah cukup berat.
****
Baru juga aku sampai didepan rumah, mataku sudah tertuju pada seorang wanita dengan baju yang sangat seksi. Dia tidak semenor dengan wanita yang aku temui di kantor tadi. Tapi siapa wanita yang ada di depan pintu rumah itu. Apa dia pacarannya Ardito lagi.
Rasa penasaranku semakin mencuak dan akhirnya memutuskan untuk keluar dari mobil. Berjalan dengan begitu sangat sombong melihat kearah dirinya sambil menaikkan sebelah alisnya.
"Kamu siapa?" tanyaku pada wanita yang mengunakan baju kurang bahan itu.
"Aku Lunaya, kamu juga sama sepertiku yah wanita yang selalu menghangatkan pria," ujarnya membuatku kesal. Dia menyamakan aku dengan dirinya? Jelas aku berbeda.
"Aku bukan wanita seperti dirimu," belasku tidak terima dia menuduhku begitu saja.
"Alah gak usah munafik deh jadi wanita, lehermu merah banyak bekas bercinta. Kamu pikir aku bodoh dan untuk apa kamu datang ke rumah ini kalau bukan untuk menghangatkan ranjang Tuan Ardito."
Mataku melotot seketika saat wanita itu mengatakan hal yang sangat menjijikan seperti ini. Dia pikir aku wanita yang hanya bisa menghangatkan ranjang seperti dirinya.
"Aku datang ketempat ini karena aku tinggal dirumah ini," balasku dengan nada sombong.
Dia malah tersenyum dengan menyebalkan, membuat aku merasa sedikit kesal. Bahkan tidak tahu harus melakukan ini.
"Jangan banyak bermimpi deh jadi orang! Semua orang juga memimpikan untuk tinggal dirumah ini, tapi aku bukan orang yang halu seperti dirimu sampai mengaku-ngaku pemilik rumah ini," sindirnya membuatku kesal.
"Cih, aku tinggal di sini meski ini bukan rumahku," kataku dengan sinis.
Lebih baik aku mandi dan membersihkan diri saja. Rasanya kesal ketika menghabiskan waktu dengan dia. Bahkan aku saja merasa heran.
Aku berjalan melewati dirinya tapi saat aku berjalan tanganku dicekal oleh dirinya. Apa maunya sebenarnya? Ah sungguh membuatku kesal. Lagian pria arogan itu sekarang kemana sih?
"Kamu mau kemana?" cegahnya.
"Aku mau kerumah," jawabku dengan tenang karena tidak ingin berdebat dan memperpanjang masalah.
"Apa ada ini?"
Akhirnya Pria itu datang juga. Tangan yang tadinya mencekal lenganku seketika dilepas begitu saja oleh wanita itu. Sekarang dia malah mendekati pria arogan itu.
"Urus tuh pacar keberapa kamu!"
Setelah mengatakan itu lantas memutuskan untuk masuk kedalam rumah. Tidak perduli dua orang yang ada di luar sana. Membuat moodku jadi buruk saja. Banyak sekali wanita yang dekat dengan Ardito.
Bersambung