Ibu mertuaku menatapku dengan pandangan yang begitu tajam, membuat nyaliku tiba-tiba ciut. Tanpa Pak Luky di sini, aku merasa seperti terpojok, tak bisa berbuat apa-apa. "Halo, Mah," sapaku dengan senyum terkendali, meskipun hatiku berdebar kencang. Aku merasa cemas, tak tahu harus berbuat apa lagi. "Kamu tak bisa mengelak lagi, Amira," katanya dengan suara yang hampir menyiratkan ancaman. Ardito malah membisikkan sesuatu ke telingaku, dan itu hanya membuatku semakin terintimidasi. Mamah Lia, yang biasanya lembut, kini memandangku dengan tatapan yang sangat berbeda—seperti aku adalah musuhnya. Aku semakin tidak mengerti, apa yang sebenarnya terjadi? "Aku tidak tahu kenapa kamu bisa sebegini liciknya, Amira," katanya, nada suaranya tajam. "Apa maksudnya, Mah?" tanyaku, bingung sekaligu

