Resti sempat kaget ketika melihat diri sang oma duduk bersama papanya di ruang keluarga. Tak ingin membuat orang lain curiga, ia segera mengubah ekspresi terkejutnya. Gadis yang masih diliputi rasa marah akan sikap Hanggono itu kembali meneruskan langkah, tanpa mau repot-repot memberi salam untuk para tetua. Tentu saja sikap lancang tersebut membuat Sukma geram. “Apakah mengenal laki-laki rendahan membuat etika kamu hilang Resti?!” tenang. Tak ada bentakan apalagi penekanan pada kalimat yang baru saja Sukma keluarkan dari bibirnya. "Omaa…" pekik Resti dengan bibir bergetar. Anak yang masih dalam masa perkembangan remaja akhir tersebut mencoba menahan tangis dan kesal. Tangis karena Sukma mengusirnya dari rumah sang papah, dan kesal atas kata-kata yang merendahkan Hasan. Kekasihnya..

