57

1226 Kata

Rara mengucek kedua mata. Kepalanya bahkan mengikuti laju mobil dipersimpangan, sampai benda mati tersebut menghilang dari penglihatannya. Ia mengerjap. Berulang kali mencoba memastikan jika ingatannya tentang sang adik pasti tak pernah salah. Mana mungkin bukan Rara melupakan wajah adiknya sendiri?! “Ibu kenapa? Kok perasaan kucek mata terus?! Mau Bapak tiupin dulu?!” tanya Bumi melihat tingkah aneh sang istri. Bumi menarik lengan kanan Rara dengan tangan kirinya, selagi yang lain bertengger untuk tetap pada roda kemudi. “Jangan dikucek terus Bu. Nanti lecet.” Peringat Bumi. Rara menghembuskan nafas. Sumpah mati, ia yakin sekali jika yang tadi berpapasan dengan mereka adalah Resti. Meskipun rasa kantuk mendominasi setelah makan seblak dadakan, tapi Rara benar-benar tak mungkin sal

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN